BERBAGI PENGETAHUAN DAN PENGALAMAN


Public Services - Pemerintahan - Metrologi - Ilmu Pengukuran - Instrumentasi - Teori Bersepeda - Pengalaman Bersepeda - Traveling - Gemstones - Hobi
Showing posts with label sepeda. Show all posts
Showing posts with label sepeda. Show all posts

Tuesday, April 21, 2020

CURUG MALELA

Malela Waterfall


Deskripsi:
Curug Malela merupakan curug yang paling menarik diantara curug-curug yang berada di seputaran Bandung. Curug ini sepintas seperti Curug Niagara di Amerika, namun ukurannya jauh lebih kecil. Dan oleh karena itu saya menyebut curug ini sebagai Curug Niagara Mini atau The Little Niagara. Di area curug terdapat bebatuan, dari ukuran kecil hingga yang berukuran sangat besar. Kalau air curug lagi kecil, yaitu pada saat musim kemarau maka kita bisa turun ke pelataran curug untuk menikmati sejuknya air pegunungan. Menurut cerita penduduk setempat setelah Curug Malela ini masih ada curug-curug lainnya pada aliran sungai yang sama, bahkan jumlahnya sampai 7 (tujuh), diantaranya adalah Curug Ngebul.


Fasilitas
Fasilitas jalan dari Kota Bandung menuju Curug Malela sudah bagus, yaitu jalan aspal mulus. Sedangkan jalan menuju curug dari area parkiran kendaraan masih berupa jalan tanah walau ada sebagian yang sudah ditembok, namun kini sudah banyak yang rusak. Jalan tanah ini sekitar 1,8 km dan jalannya cukup curam, maka sebaiknya kalau mau turun ke curug kita harus menggunakan sepatu hiking.
Di area tempat wisata Curug Malela sudah tersedia warung-warung makan, mushala, toilet, parkiran mobil/motor/sepeda, dan ojeg gunung untuk menuju curug. Sedangkan untuk penginapan belum tersedia. Biasanya para goweser/pesepeda ataupun yang backpacker-an kalau mau nginep suka ikut numpang di warung-warung. Bahkan seandainya mau kamping juga bisa.

Lokasi dan Transportasi
Lokasi Curug Malela sekitar 74 km dari Kota Bandung, yaitu tepatnya berada di Desa Sindangjaya, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Untuk menuju Curug Malela dari Kota Bandung dapat menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Bila menggunakan kendaraan umum bisa naik elf jurusan Ciroyom – Bunijaya, dan dari Bunijaya naik ojeg sampai ke Curug Malela. Jarak dari Bunijaya ke Curug Malela sekitar 12 km. Adapun jalan yang dilalui oleh kendaraan umum (elf) tersebut melawati daerah Cipatik, Cililin, Sindangkerta, Gunung Halu, dan Bunijaya.



Bersepeda ke Curug Malela
Rute Bandung ke Curug Malela merupakan rute sepedahan yang mengasyikan. Ada 3 (tiga) rute utama menuju Curug Malela, yaitu melalui Cililin, bendungan DAM Saguling dan Ciwidey. Ketiga rute tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda. Rute melalui Cililin dapat menggunakan semua jenis sepeda, bagi yang suka menggunakan sepeda balap (road bike) rute ini merupakan rute yang enak sekali untuk dijalani, dengan jarak sekitar 75 km bisa ditempuh dalam waktu 3 (tiga) jam saja.
Karakter rute melalui bendungan DAM Saguling adalah rolling dengan beberapa tanjakan yang agak ekstrim. Titik start untuk rute ini biasanya di Kota Baru Parahyangan (KBP), dan daerah yang dilewati adalah Cipangeran, DAM Saguling, Cibenda, Rongga dan terakhir Curug Malela.
Sedangkan rute melalui Ciwidey adalah rute dengan jenis jalan beraneka ragam, mulai dari jalan aspal, beton, tanah sampai dengan bebatuan (makadam). Jadi sebaiknya kalau akan melalui rute ini harus menggunakan sepeda gunung (MTB). Bersepeda melalui rute ini kita akan disuguhkan dengan pemandangan alam yang begitu indah, kebun teh, pesawahan, hutan dan penampakan gunung yang manakjubkan.

-o0o-


Friday, April 17, 2020

GOWES ADVENTURE KE HUTAN LONDOK



Hari sabtu tanggal 23 Februari 2019 akhirnya datang juga, ini merupakan hari sabtu spesial yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Bagaimana tidak spesial karena sabtu ini diajak Kang Iwan ST dan Kang Yus dari grup Korlap and The Backbone (KnB) untuk ikut gowes ke Cidaun lewat Hutan Londok. Saya kira track ini merupakan impian utk goweser MTBer, pokoknya jangan ngaku MTBer kalau belum lewat track ini. Trip gowes adventur kali ini diikuiti oleh 14 orang goweser, yaitu Kang Yus, Kang Iwan, Kang Ief, Kang Dadan, Kang Tedi, Kang Indra, Kang Heri, Kang Toni, Kang Edi, Kang Onong, Kang Nendi, Kang Rusman, Pak Bambang dan saya sendiri Usman.

Mengurus ijin dari istri dan mempersiapkan sepeda merupakan hal penting yang saya lakukan agar rencana gowes ke Hutan Londok ini bisa terlaksana dengan baik. Untuk gowes di track komplit terkadang kita agak susah untuk memutuskan jenis sepeda apa yang akan dipakai, sempat bingung antara jenis Full Suspension (Fulsus) atau jenis Hard Tail (HT). Kedua jenis sepeda ini mempunyai keunggulan masing-masing, namun akhirnya saya memutuskan untuk memakai sepeda HT saja. Karena saya pikir sepeda ini akan lebih mumpuni untuk track komplit. Tentu saja dengan konsekuensi akan kena “tremor” saat menemui turunan makadam panjang karena fork travelnya hanya 100 mm.

Bada sholat subuh mulai gowes dari rumah Kopo Sayati menuju ke tempat kumpul di rumah Kang Yus di Bojong Soang. Ternyata di rumah Kang Yus sudah ada beberapa temen yang sudah sampai duluan, termasuk Kang Iwan ST yang jauh-jauh datang dari Tanah Batawi. Untuk kenyamanan dan efisiensi kendaraan loading, event kali ini hanya dibatasi 14 orang saja yang bisa ikut, ke empat belas orang ini berasal dari grup KnB, GSM dan LintAng ITB. Karena berbagai hal akhirnya baru bisa berangkat jam 8-an pagi dari Bojong Soang menuju titik start sekitar Rancabolang Ciwidey. Untuk menghemat waktu kami dari Bojong Soang sengaja diangkut dengan menggunakan mobil pick-up sampai titik start gowes di Mushroom Hill.

Dalam perjalanan menuju Rancabolang tidak lupa kamipun berhenti dulu di warung nasi sebelum Alun-Alun Ciwidey untuk sarapan dan membungkus lauk pauk untuk nanti makan malam setelah melewati Hutan Londok. Akhirnya kami sampai di titik start gowes, setelah menurunkan sepeda, briefing oleh Korlap Kang Yus dan senam pemanasan dipimpin oleh Kang Rusman, kamipun akhirnya start gowes etape pertama menuju kampung terakhir sebelum masuk hutan.

Etape pertama ini berjarak 14,3 km dengan jenis jalan single track, jalan perkebunan teh dan makadam. Awal perjalanan pada etape pertama ini disuguhi dengan single track yang cukup panjang dan lumayan gurih. Melewati bukit-bukit hamparan kebun teh yang indah, melewati beberapa kampung kecil yang penduduknya ramah-ramah. Di kampung kedua yang dilewati, kami berhenti untuk istirahat, sekedar ngopi-ngopi di warung kecil. Warung kecil ini kami beri nama Warung Baby Oil. Bermula dari salah satu sepeda temen kami, yaitu Kang Indra, yang rem hidroliknya kurang oli, bisa kembali normal setelah ditambahin baby oil yang diperoleh dari Neng Cantik yang punya warung, idenya Korlap memang ada-ada aja.

Sekitar jam tigaan sore kamipun sampai di kampung terakhir sebelum masuk hutan, kami di sini berhenti agak lama karena harus istirahat, sholat, dan makan. Kami di sini istirahat di warung yang sudah biasa jadi tempat istirahat ataupun transit para goweser yang akan melewati Hutan Londok. Air bening yang sejuk, mushola yang nyaman, nasi hangat yang pulen, pindang ikan mas yang lezat, keramahan yang punya warung membuat kami betah istirahat di sini, rasanya ingin menginap dulu saja di sini.

Posisi geofrafis warung ini tepat di perbatasan Ciwidey dengan Cianjur, melangkah sedikit ke depan, sudah masuk daerah Cianjur. Saat Kang Iwan mampir pada tahun 2009, 2010 dan 2012, rumah yang merangkap warung ini dihuni oleh sepasang suami istri yang sudah berusia lanjut. Rumah sederhana, dengan teras yang panjang di bagian depan dan warung seadanya. Bagian dalam, hanya terdiri dari ruang terbuka tanpa mebel yang sekaligus dapur dengan tungku tradisional kayu bakar. Ditambah dua kamar tidur, dimana satu kamar tidurnya dijadikan mushola. Untuk urusan MCK, di bagian belakang, terpisah sedikit dari rumah, terdapat kamar kecil dengan air dingin yg mengalir deras, sangat menyegarkan! Saat ini rumah tersebut sudah beralih pemilik, karena sudah dijual oleh pemilik lamanya yang ditinggal meninggal sang istri. Saat ini Pak Memen dan keluarga adalah yg memiliki rumah tersebut dan melanjutkan pelayanan kepada para goweser yg mampir. Tidak banyak berubah, hanya stiker-stiker komunitas goweser dan motoX semakin memenuhi jendela kaca depannya.


Sebelum terhanyut lebih jauh dengan kenyamanan Warung Londok, kami harus siap-siap kembali melanjutkan perjalanan. Kabar yang kurang enak terdengar ke telinga kami, ternyata sebelumnya para motocrosser yang berjumlah sekitar dua puluh lima orang sudah lebih dulu tiba. Dan saat ini mereka sudah berada di depan, artinya sudah terbayang kondisi jalur yang akan kami lewati seperti apa. Pastinya akan lebih berat untuk dilalui, track akan hancur karena lebih dulu kena garukan ban pacul motoX. Kondisi cuaca cukup mendung dan kabar yang kurang enak, tidak membuat surut para goweser. Dengan tetap semangat tinggi, kami melanjutkan perjalanan, Semangat & Hajaaaar ...!!!

Kira-kira jam empat sore kami mulai masuk hutan. Etape kedua ini, yaitu track Hutan Londok merupakan menu utama pada trip gowes kali ini. Etape ini berjarak 12,2 km saja, secara jarak memang pendek tapi medannya luar biasa. Track ini memerlukan stamina yang prima, skill yang mumpuni dan keberanian yang membara. Harus siap melalui medan berat berupa kubangan lumpur, track tanah licin selicin keramik, track hamparan batang pohon, track makadam dan track monorail yang dalam bekas motorcross. Suasana hutan lebat dan cerita masih adanya binatang buas merupakan bumbu tersendiri saat melewati etape ini. Akan kecut hati saat mendengar cerita Mang Senar, yang katanya masih suka menemui tapak-tapak bekas kucing besar.

Awal masuk hutan disuguhi hiburan track menurun yang sedap, namun hiburan ini tidak lama karena selanjutnya harus menghadapi track menanjak yang panjang, hampir banyak segment dimana kami harus mendorong sepeda, bukan karena tanjakannya yang terjal tetapi karena medan jalannya yang tidak goweseble.

Kang Yus selaku marshall terdepan selalu menjaga ritme perjalanan, berhitung jumlah peserta kerap dilakukan saat goweser saling merapat maupun tidak. Komunikasi dua buah HT, cukup membantu komunikasi Kang Yus yang di depan dengan sweeper, Kang Ief, di belakang. Sesekali berhenti untuk menghela nafas dan minum sejenak, atau bahkan foto-foto sambil bersenda gurau untuk mengurangi tingkat kelelahan atau tekanan mental menghadapi kondisi medan yang parah.

O yaa… kondisi sinyal jaringan gsm (HP) dalam perjalanan ini sudah mulai menurun dan menghilang, saat mendekati jalur makadam kebun teh. Terakhir terdeteksi saat start saja di Mushroom Hill. Jadi, jangan berharap selama perjalanan di etape ini bisa menggunakan HP sebagaimana mestinya.

Jalur tanah yang pada awalnya agak keras, semakin ke dalam semakin becek dan gembur. Beberapa spot terdapat kubangan-kubangan yang cukup lebar disertai bekas jejak-jejak ban motoX. Sepeda kesayangan pun sudah tidak bisa digowes, goweser mulai bersiasat, konsentrasi tinggi dan berpikir keras arah jalur yang akan diambil. Salah mengambil jalur, resiko tergelincir salah menjejak dan masuk kubangan yang lebih dalam pasti akan dihadapi. Lumpur yang mulai menerpa ban sepeda, mulai sulit untuk lepas, menempel dan membuat macet putaran ban, istilah goweser track jadi “nga-donat”. Sepeda semakin sulit didorong, apalagi ditambah kondisi beberapa medan terjal, semakin menguras tenaga. Kang Dadan keliatan semakin sulit untuk mendorong sepedanya, jangankan untuk mendorong untuk jalan kaki saja sudah susah, sepatunya jebol, solnya lepas korban keganasan lumpur becek dan lengket. Namun Kang Dadan tetap tegar dan semangat melewati Hutan Londok walau sepatunya diikat tali rapia dan karet ban dalam.

Jatuh bangun di atas jalur becek berlumpur, sudah tak terhindarkan. Insiden jatuh di awal-awal jalur hutan Londok ini terjadi. Kang Toni, entah kenapa, tiba-tiba jatuh terjerambab masuk jurang dengan kepala lebih dulu, sepedanya menimpa di belakangnya. Untung Kang Yus masih dekat dan terlihat di depannya, sehingga dengan teriakan paniknya Kang Toni, membuat Kang Yus dengan sigap menolong secepatnya. Setelah menyingkirkan lebih dulu sepeda, Kang Toni yang hanya berpegangan pada akar dan batang pohon, ditarik kakinya naik ke atas jalur. Alhamdulillah tidak terjadi sesuatu yang lebih parah.

Setelah menempuh jarak 4,2 km akhirnya kami sampai di puncak pendakian, rasanya senang sekali saat mencapai puncak karena di titik ini ada Mang Senar lagi menghangatkan diri di hadapan api unggun. Kamipun di sini ngopi panas dulu yang dibuatin Mang Senar. Mang Senar cerita bahwa dia selama dua atau tiga hari dalam seminggu suka tinggal di hutan, sengaja untuk jaga bila ada yang lewat hutan kena masalah, nyiapin air panas dan tentunya juga ngebuatin kopi seduh. Nggak habis pikir betapa beraninya penduduk Kampung Cihalimun ini malam-malam sendirian nginep di Hutan Londok. Dia dan beberapa temennya yang suka membuat saung-saung untuk berteduh dan memberesin jalan alakadarnya bekas galian ban motorcross.

Turun hujan membuat medan tambah berat dan adanya beberapa masalah teknis sepeda membuat pergerakan kami menjadi lambat. Apalagi dari tiga perempat medan ini harus kami tempuh dalam suana malam, pandangan mata jadi terbatas walau sudah menggunakan lampu LED yang cukup terang. Entah secara alami atau bukan, yang jelas kondisi jalur yang parah mulai mengikis stamina para goweser. Rombongan menjadi terpecah dua, empat orang (Saya, Kang Rusman, Pak Bambang dan Kang Edi) ada di grup depan dan sepuluh orang (Kang Yus, Kang Iwan dan yang lainnya) ada di grup belakang, secara waktu hampir satu jam bedanya.

Pelajaran berharga saat menemui kenyataan bahwa salah seorang dari rombongan grup depan tertinggal, menjadi berada diantara grup depan dan belakang. Diperkirakan saling tunggu tanpa adanya komunikasi menjadi akar masalahnya. Inilah awal terbitnya Surat Wasiat dari Kang Edi jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkannya. Maklum Kang Edi menjadi ketakutan sendirian digelapan hutan karena mendengar cerita yang serem dari Mang Senar sebelumnya.

Rasanya bahagia sekali saat lampu rumah di perkampungan Cihalimun mulai tampak di kejauhan. Semangat gowespun nambah kencang, ingin segera keluar dari hutan dan nyampe perkampungan. Namun ternyata untuk mencapainya masih cukup jauh, harus melewati jalan yang tambah mengecil dan lebih memerlukan skill untuk melewatinya. Dalam suasana perasaan ingin segera sampai, rem belakang sepeda Pak Bambang tiba-tiba macet, piston calliper tidak bisa kembali menjepit rotor yang menyebabkan ban belakang total tidak bisa berputar. Kami harus melepas dulu calliper tersebut dan terpaksa Pak Bambang harus gowes pelan-pelan karena sepedanya tanpa rem belakang. Seru juga ngebengkel sepeda di tengah hutan yang gelap, di atas tanah becek dan dihiasi hujan rintik-rintik.

Alhamdulillah akhirnya sekitar jam sepuluhan malam kami bisa keluar dari Hutan Londok dan melihat perkampungan Cihalimun. Di pinggir hutan ini hanya tampak dua rumah saja dan posisinya saling berjauhan. Dalam keadaan gelap yang hanya diterangi lampu remang-remang kami coba mengucapkan salam ke penghuni rumah pertama yang kami temui, nggak ada yang nyahut, sepertinya sudah pada tidur penguhuninya. Terus kami bergerak ke rumah kedua melalui jalan tanah setapak di sepanjang pinggir sungai yang airnya jernih dan cukup deras. Sebelum nyampe rumah kedua di sungai kami membersihkan dulu pakaian dan sepeda yang kotor penuh lumpur hutan. Air sejuk sekali di kaki menggoda untuk sekalian cuci muka yang cemong berlumuran lumpur Hutan Londok. Subhanalllah sejuk sekali air sungai Cihalimun ini.

Di rumah kedua, yaitu ternyata rumahnya Mang Senar, kami disambut anaknya, dibuatkan air panas dan makanan ringan. Setelah bersih-bersih dan ganti baju sambil menunggu rombogan Kang Yus datang, kami buka bekal nasi yang dibawa dari warung sebelum masuk hutan. Sekitar jam sebelasan malam akhirnya rombongan kedua keluar dari hutan. Karena di rumah ini sudah penuh oleh pengendara motorcross, oleh anak Mang Senar kami diarahkan untuk nginap di rumah lain. Walau tidur berjejer seperti ikan pindang, Alhamdulillah kami bisa istirahat dengan cukup nyaman.

Pagi-pagi anak Mang Senar sudah menyiapkan sarapan, walau dengan hanya telor dadar dan lauk pauk seadanya rasanya nikmat sekali. Di pagi hari kampung Cihalimun terasa sejuk sekali, alam pedesaannya ternyata indah sekali. Sebetulnya ada rasa enggan untuk buru-buru meninggalkan kampung ini. Setelah menyeting sepeda masing-masing, terutama dibagian rem, kami siap-siap untuk berangkat gowes lagi menempuh etape ketiga ke arah Pantai Cidaun.


Etape ketiga berjarak 27 km, etape ini jalannya didominasi oleh jalan makadam, walau di beberapa bagian ada jalan tanah dan beton juga. Kurang lebih sekitar jam delapanan pagi mulai bergerak gowes menuju Cidaun, langsung disuguhi jalan single track hamparan batu campur tanah menurun yang cukup tajam dan licin. Tentu saja untuk menjalani track seperti ini memerlukan sedikit teknik dan keberanian. Selanjutnya jalan naik turun melewati perkampungan Cihalimun ini. Namun tidak berapa lama kami harus berhenti dulu di suatu warung kecil, kebetulan brake pad ban belakang sepeda Kang Iwan habis, sehingga terdengar suara rem cekit-cekit yang kurang enak di telinga.

Diperkirakan kalau hanya ganti brake pad tidak akan lama, tinggal buka yang lama dan pasang yang baru, karena kebetulan Kang Yus membawa sepasang cadangan brake pad. Namun ternyata nasib berbicara lain, ukuran brake pad-nya beda dimensi, lebih panjang beberapa milimeter, sehingga tidak bisa masuk ke callipernya sepeda Kang Iwan. Alhamdulillah berkat bantuan pemuda kampung setempat brake pad bisa dibubut dan untuk fine tuningnya oleh Mac Gyver Kang Ief dibantu Kang Onong, dan akhirnya setelah tertunda hamper empat puluh lima menit perjalananpun dapat dilanjutkan lagi.

Suhu panas daerah Cianjur selatan membuat kami harus berteduh dulu di bawah pohon-pohon kawung, bergelatakan di pinggir jalan walau agak menghalangi motor penduduk sekitar yang lalu lalang membawa kayu. Tidak terkecuali Kang Hari offroader dari Bekasi, Kang Dadan, dan Kang Indra, Kang Iwan tergeletak melintang menikmati tiupan angin yang sejuk. Kang Edi, Kang Nendi, Kang Toni dan Kang Onong duduk berkumpul meroko sambil “ngadu bako”, sedangkan Pak Bambang duduk termenung ngoprek HP yang kesulitan dapat sinyal. Sementara itu Korlap Kang Yus kadang duduk termenung dan kadang bolak balik jalan, ntah apa yang ada dibenaknya, kemungkinan masih memikirkan kata-kata baby oil yang selalu terngiang-ngiang ditelinganya.

Setelah badan terasa lebih segar, kamipun melanjutkan perjalan menuju Cidaun yang hanya tinggal beberapa belas kilometer lagi. Jalan relatif banyak turunnya, yang menggunakan sepeda full suspension keliatan sangat menikmati etape akhir ini, berlarian kejar-kejaran. Sedangkan saya harus bersabar gowes normal karena efek tremor sudah mulai terasa di otot tangan. Di suatu tempat kami harus berhenti sejenak menunggu Kang Ief yang sepedanya kena gangguan bagian rear derailleurnya, dengan terpaksa sementara sepedanya harus dijadikan single speed karena RD nya sudah tidak bisa difungsikan lagi. Performa Kang Ief tidak usah disangsikan walau pake single speed, karena memang dia sweeper sejati X-Man.

Sungguh akhir track yang menyenangkan, menjelang akhir kami disuguhkan double track beton kampung yang lezat dan cukup panjang. Kalo nggak takut ada penduduk yang nyebrang kiranya bisa full speed di segmen ini. Jembatan gantung sungai Cidaun sudah tampak dari kejauhan, berarti tidak lama lagi kami akan sampai di garis finish trip Hutan Londok – Cidaunm ini. Alhamdulillah akhirnya kamipun sampai di di garis finish, perayaan sederhana tapi berkesan, kami mandi bareng di sungai Cidaun yang airnya sejuk, bening dan hiasi bebataun.

-o0o-

Saturday, November 9, 2013

Wednesday, October 30, 2013

Mengenal Jenis Sepeda Gunung


Ditulis kembali oleh Usman
Sumber dari Internet

Sepeda gunung atau mountain bike (MTB) merupakan salah satu jenis sepeda yang bisa digunakan, baik untuk kebutuhan olah raga, sekolah maupun bekerja. Untuk itu dalam pembelian sepeda gunung, sebaiknya anda mendasarkan pertimbangan pada fungsi kegunaan dan medan yang akan dialui. Berikut ini Tips membeli sepeda gunung: 


1.    Kenali Type Sepeda Gunung
Ada beberapa tipe sepeda gunung yang perlu anda kenali sebelum membeli, yaitu tipe downhill (DH), Freeride (FR), Dirtjump (DJ), Cross Country (XC) dan All Mountain (AM). Pemilihan tipe sepeda sebaiknya anda sesuaikan dengan jenis aktifitas serta karakter madan yang akan anda tempuh.

a)    Tipe Downhill (DH)
Seperti gambar 1 dan 2, dirancang agar dapat melaju cepat, aman dan nyaman dalam menuruni bukit dan gunung. Mampu menikung dengan stabil pada kecepatan tinggi dan selalu dilengkapi suspensi belakang untuk meredam benturan yang sering terjadi. Sepeda DH tidak mengutamakan kenyaman mengayuh karena hanya dipakai untuk turun gunung. Sepeda downhill juga lebih mengacu pada lomba, sehingga selain kekuatan, yang menjadi titik tekan dalam perancangannya adalah bagaimana agar dapat melaju dengan cepat. Untuk menuju ke lokasi, para downhiller tidak mengayuh sepeda mereka namun diangkut dengan mobil. Tipe ini tidak efisien apabila dipergunakan di dalam kota maupun di jalur cross country.

b)    Tipe Freeride (FR)
 Seperti gambar 3, Dirancang untuk mampu bertahan menghadapi drop off (lompatan) tinggi dan kondisi ekstrim sejenisnya. Bodinya kuat namun tidak secepat dan selincah tipe all mountain (AM) karena bobotnya yang lebih berat. Kurang cocok untuk dipakai jarak jauh.

c)    Tipe Cross Country (XC)
Seperti gambar 4, dirancang untuk lintas alam ringan hingga sedang. Didesain agar efisien dan optimal pada saat mengayuh dan menanjak di jalan aspal hingga jalan tanah pedesaan. Biasanya cukup dengan tipe Hardtail (suspensi depan). Cross Country (XC) untuk medan yang tidak terlalu ekstrim, sepeda gunung jenis ini hanya mempunyai suspensi depan atau tanpa suspensi sama sekali. Karena hanya memiliki suspensi depan biasanya sepeda gunung jenis ini dikategorikan sebagai rigid frame.

d)    Tipe Dirt Jump (DJ)
Seperti gambar 5, didesain untuk melakukan aktifitas lompatan-lompatan tinggi dan extreme, seperti halnya sepeda-sepeda BMX. Bentuk frame DJ biasanya berkesan kokoh dan gaya, namun agak terasa berat untuk jalur menanjak. DJ untuk keperluan Cross Country, biasanya dikombinasi dengan menggunakan solusi berupa memperingan komponen-komponen penyusun lainnya seperti fork, velg ataupun crank.

e)    Tipe All Mountain (AM)
 Seperti gambar 6, dirancang untuk lintas alam berat seperti naik turun bukit, masuk hutan, melintasi medan berbatu, dan menjelajah medan offroad jarak jauh. Keunggulan all mountain ada pada ketahanan dan kenyamanannya untuk dikendarai. Hampir semua sepeda AM bertipe full-suspension (suspensi depan dan belakang)

2.    Bergabung dengan Forum Komunitas Sepeda
Untuk lebih memahami seluk beluk sepeda gunung, tidak ada salahnya anda bergabung terlebih dahulu dengan salah satu komunitas sepeda di lingkungan anda, bisa di lingkungan kerja, lingkungan kampus ataupun forum komunitas online di internet, seperti www.b2w-jogja.web.id , www.b2w-indonesia.or.id dan sejenisnya. Di forum tersebut, anda dapat mendengarkan, menanyakan sekaligus meminta saran dan pertimbangan segala hal tentang seluk beluk sepeda berdasarkan hands-on experience mereka, yang dapat anda jadikan dasar pembelian sepeda.

3.    Pembelian Model Custom atau Full Bike.
Kedua faktor ini biasanya merupakan langkah awal dalam pembelian sepeda gunung, dimana masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan pembelian model custom, anda dapat menentukan sendiri komponen-komponen penyusun dari sepeda anda, seperti model frame, jenis crank, tipe fork maupun merk shifter-nya. Pemahaman anda terhadap detil sepeda sangat diperlukan di sini. Untuk pemula yang akan menggunakan model pembelian ini, sebaiknya memerlukan rekan pendamping yang lebih paham (advance-level) detil sepeda gunung, agar pemilihan komponen bisa tepat dan nyaman dipergunakan. Sebaliknya dengan pembelian model Full Bike, pemula tidak terlalu dipusingkan oleh item-item komponen. Setiap merk biasanya sudah menyiapkan satu unit sepeda yang telah di kustomisasi (mix and match) sesuai standar pabrik, misalnya merk Giant, Specialized, KHS ataupun Polygon. Dengan demikian harganya juga bertingkat mulai dari low-end sampai high-end, dengan kisaran harga mulai dari sekitar 1.5 juta s/d puluhan juta rupiah, tergantung kustomisasi komponen penyusun sepeda gunung. Di sini anda perlu sedikit jeli, mengamati detil komponennya, terutama pada shifter, breaker dan crank. Jangan ragu untuk mencoba mengendarainya (test-drive) sebelum membeli untuk memastikan kombinasi komponen-komponen tersebut telah nyaman dan sesuai dengan Anda.

4.    Pembelian Tangan Kedua (Second-Hand)
Tidak hanya mobil atau motor, sepeda gunung pun bisa dibeli melalui tangan kedua (second-hand). Memang memperoleh second-hand sepeda gunung tidak semudah second-hand mobil/motor. Kuncin dari pemblian model ini adalah network yang luas dan sabar. Pergunakan network komunitas anda untuk memperoleh informasi tersebut. Karena biasanya publikasi penjualan sepeda gunung second hand berdasarkan obrolan dari mulut ke mulut. Anda perlu bersabar dalam hunting sepeda gunung second-hand, mengingat tidak setiap hari orang menjual sepeda gunungnya. Jalan tengah yang sering ditempuh adalah dengan membeli komponen demi komponen yang dijual second-hand secara terpisah, untuk kemudian anda satukan dan anda rakit menjadi 1 unit sepeda. Beberapa komponen sepeda gunung seperti frame, crank bahkan full bike jenis second hand juga sering ditawarkan melalui internet, baik dari show room di dalam negeri maupun luar negeri. Pembelian model ini sangat cocok untuk anda dengan anggaran terbatas.

5.    Harga Pembanding

Setelah anda yakin dengan jenis sepeda gunung yang anda incar, jangan terburu-buru membeli. Cobalah sedikit mencari harga pembanding baik melalui beberapa toko di kota anda ataupun browsing melalui internet.










MOST VIEWED